Aku pangeran malu
Anak sang pengelana waktu
Yang terbentuk dari gerimis
Dan hembusan angin senja
Aku tak pandai bicara dan berlaku
Aku hanya bisa menatap sayu peristiwa
Aku pangeran waktu
Tumbuh dewasa bersamaan ketika pohon pinus gugur
Saat matahari memanas dan air kolam yang pasang mulai menyurut
Ketika semua tidur dalam kesepian
dan makan malam mereka hanya ditemani ransum
Aku pangeran malu
Berteman dengan hembusan malam
Yang dingin tak berperasaan
Para pecinta yang durja
yang diam bisu melihat pujaan
Berkeliling dengan kerudung kelam
Dan tinggal di istana suram
Fresh the Brain
Jumat, 04 Februari 2011
Kamis, 21 Oktober 2010
Di Dalam Bilik tak Bertuan
Gemericik tetesan hujan sore itu seperti mengantarkan sebuah pesan yang ragu
Sisa-sisa tanah kering yang mulai pudar mengantarkan aroma tanah yang haru
Rumput-rumput yang basah terlihat hijau dam diikuti buah pohon pala yang meranum
Kemanakah perginya awan putih itu?
Hilangkan dingin kelam dan undang datang sang bintang menari
Cahaya bulan jelas terlihat ragu bersinar dan seolah angin pun enggan bertiup
Tetap membawa suasana malam kelam yang dingin merobek kulit
Di balik gemericik dan dinginnya suasana, seorang bocah kecil berlari
Berpayung daun pisang yang mungkin tiada berguna
Berlari menerobos butiran-butiran air dari langit malam
Berteduh di dalam bilik tak bertuan yang kusam dan kotor
Kuyup badan dan sayu mata temaram memandang sekitar
Terbesit tanya dalam hati kecil yang mungkin tiada satu orang pun tahu
Apa rencana tuhan malam ini?
Beri waktu untuk istirahat dan tanpa sadar mata terlelap
Dibalik dinding beranyam bambu yang reot dimakan waktu
Hujan masih gerimis saja seolah enggan memberi ritme yang meninggi
Bagai komposer yang tetap memberi lantunan pelan yang nyaman
Terjaga sang bocah lama terdiam
Teringat tujuan yang masih panjang yang harus dilalui
Sebuah pesan penting yang harus disampaikan pada seorang disana
Kenapa dia?
Kenapa dia menjadi penyampai pesan?
Bukankah itu kejam di malam yang hujan gerimis dan kelam harus berlari?
Sebuah surat basah yang usang tergenggam di tangannya
Tinta pena seperti mulai memudar
Letih kaki masih ingin bersandar pada dinding usang ini
Tapi dia harus berlari lagi
Hingga waktunya pesan telah sampai,
Bilik tak bertuan akan merengkuhmu lagi
Sisa-sisa tanah kering yang mulai pudar mengantarkan aroma tanah yang haru
Rumput-rumput yang basah terlihat hijau dam diikuti buah pohon pala yang meranum
Kemanakah perginya awan putih itu?
Hilangkan dingin kelam dan undang datang sang bintang menari
Cahaya bulan jelas terlihat ragu bersinar dan seolah angin pun enggan bertiup
Tetap membawa suasana malam kelam yang dingin merobek kulit
Di balik gemericik dan dinginnya suasana, seorang bocah kecil berlari
Berpayung daun pisang yang mungkin tiada berguna
Berlari menerobos butiran-butiran air dari langit malam
Berteduh di dalam bilik tak bertuan yang kusam dan kotor
Kuyup badan dan sayu mata temaram memandang sekitar
Terbesit tanya dalam hati kecil yang mungkin tiada satu orang pun tahu
Apa rencana tuhan malam ini?
Beri waktu untuk istirahat dan tanpa sadar mata terlelap
Dibalik dinding beranyam bambu yang reot dimakan waktu
Hujan masih gerimis saja seolah enggan memberi ritme yang meninggi
Bagai komposer yang tetap memberi lantunan pelan yang nyaman
Terjaga sang bocah lama terdiam
Teringat tujuan yang masih panjang yang harus dilalui
Sebuah pesan penting yang harus disampaikan pada seorang disana
Kenapa dia?
Kenapa dia menjadi penyampai pesan?
Bukankah itu kejam di malam yang hujan gerimis dan kelam harus berlari?
Sebuah surat basah yang usang tergenggam di tangannya
Tinta pena seperti mulai memudar
Letih kaki masih ingin bersandar pada dinding usang ini
Tapi dia harus berlari lagi
Hingga waktunya pesan telah sampai,
Bilik tak bertuan akan merengkuhmu lagi
Rabu, 20 Oktober 2010
Ketika Sinar Senja...
Ketika sinar senja tiada bertegur sapa
Angin semilir sampaikan duka pilu
Lonceng-lonceng gereja berdentang tanpa irama
Daun-daun terbang berhambur sendu
Terduduk lesu dalam pelukan sayap malaikat pekat
Tanpa tahu dan peduli apa yang terlewati
Dalam kata dan senandung lidah serasa tercekat
Bait-bait dari pena pun mulai terasa bagai meniti temali
Dan ketika sinar senja tiada bertegur sapa
Laba-laba hitam berhenti menyulam sarang legam
Binatang malam pun mulai bersiap untuk berpesta
Dan bulan perlahan menyeruak di balik awan kelam
Gemercik air dari telaga waja yang surut
Menitip rindu dan kenangan di saat pasang
Tahukah kau ketika semua mulai pekat?
Tiada seorang pun yang akan datang menjelang
Angin semilir sampaikan duka pilu
Lonceng-lonceng gereja berdentang tanpa irama
Daun-daun terbang berhambur sendu
Terduduk lesu dalam pelukan sayap malaikat pekat
Tanpa tahu dan peduli apa yang terlewati
Dalam kata dan senandung lidah serasa tercekat
Bait-bait dari pena pun mulai terasa bagai meniti temali
Dan ketika sinar senja tiada bertegur sapa
Laba-laba hitam berhenti menyulam sarang legam
Binatang malam pun mulai bersiap untuk berpesta
Dan bulan perlahan menyeruak di balik awan kelam
Gemercik air dari telaga waja yang surut
Menitip rindu dan kenangan di saat pasang
Tahukah kau ketika semua mulai pekat?
Tiada seorang pun yang akan datang menjelang
Metafora Jiwa Yang Pucat
Saat kata mulai tiada berguna & bermakna lagi
Akankah bibir masih bisa berucap kembali
Kelu lidah mati rasa hambar tak berguna
Terbata-bata ingin berbicara tentang kejujuran
Kosong melompong otak coba berpikir
Menerawang jauh tentang indah lalu dunia
Perlahan-lahan cerita kehidupan lalu berputar
Sebuah idealsme kaku dan tanpa ujung yang meraja
Sebuah sikap optimis menjadi sikap pesimis yang pasti
Jalan-jalan indah berubah terasa berlumpur & panas
Bagai tertusuk duri mawar dan terlilit benalu
Biar saja mati & tanpa kompromi
Sayup-sayup burung gagak dan nasar terdengar merdu
Lolongan serigala pun menjadi satu symphoni yang indah
Gesekan biola malam menyanyat hati yang perih
Seiring terbebas lepas nyawa dari raga
Akankah bibir masih bisa berucap kembali
Kelu lidah mati rasa hambar tak berguna
Terbata-bata ingin berbicara tentang kejujuran
Kosong melompong otak coba berpikir
Menerawang jauh tentang indah lalu dunia
Perlahan-lahan cerita kehidupan lalu berputar
Sebuah idealsme kaku dan tanpa ujung yang meraja
Sebuah sikap optimis menjadi sikap pesimis yang pasti
Jalan-jalan indah berubah terasa berlumpur & panas
Bagai tertusuk duri mawar dan terlilit benalu
Biar saja mati & tanpa kompromi
Sayup-sayup burung gagak dan nasar terdengar merdu
Lolongan serigala pun menjadi satu symphoni yang indah
Gesekan biola malam menyanyat hati yang perih
Seiring terbebas lepas nyawa dari raga
Senin, 18 Oktober 2010
Seorang yang telah mati
Aku seorang yang telah mati
Dengan jiwa yang kosong melompong
aku tetap berjalan menyusuri jalan yang kotor berlumpur
Sebuah dilema dan problema yang ada jauh sebelum aku lahir
Kini ada di seluruh gerak-gerikku
Aku menjadi sang pendosa yang hina
Tiada tau salah mengapa dan siapa
Aku hanya seperti menjadi seorang pemegang tongkat estafet
yang menjadi penyambung hingga semua berakhir'
Jemu sudah aku dengan semua
Aku bosan terus berlari
Aku ingin mendobrak sebuah realita
Sebuah dikte caci maki yang mungkin tiada berbudi
Manisnya madu kurasa racun yang sulit kuteguk
Pahitnya derita mungkin serasa sebuah bahagia
Hilang sudah semua indera
dan aku memang seorang yang telah mati
Dengan jiwa yang kosong melompong
aku tetap berjalan menyusuri jalan yang kotor berlumpur
Sebuah dilema dan problema yang ada jauh sebelum aku lahir
Kini ada di seluruh gerak-gerikku
Aku menjadi sang pendosa yang hina
Tiada tau salah mengapa dan siapa
Aku hanya seperti menjadi seorang pemegang tongkat estafet
yang menjadi penyambung hingga semua berakhir'
Jemu sudah aku dengan semua
Aku bosan terus berlari
Aku ingin mendobrak sebuah realita
Sebuah dikte caci maki yang mungkin tiada berbudi
Manisnya madu kurasa racun yang sulit kuteguk
Pahitnya derita mungkin serasa sebuah bahagia
Hilang sudah semua indera
dan aku memang seorang yang telah mati
Minggu, 10 Oktober 2010
Sang Pemegang Lentera
Wahai kau pemegang lentera
Tunjukan aku tempat sunyi yang indah
biarkan gelap menyertaiku dan tinggalkan aku
Antarkan aku agar mataku kembali terbiasa pada gelap
Ya...
kau pemegang lentera
Tuntun aku ke tempat itu
Biarkan aku kembali meraba-raba
Dan biarkan aku gunakan indra sentuhku
Dan kau pemegang lentera
Tuntunlah aku dulu kesana
jangan biarkan aku ditempat ini
ini bukan tempat yang kumaksud
Jangan beri aku lentera wahai pemegang lentera
Aku ingin damai tanpa cahaya
Biarkan aku buta walau sekejap
dan saat aku bosan dengan gelap
Jemputlah aku disini
Tunjukan aku tempat sunyi yang indah
biarkan gelap menyertaiku dan tinggalkan aku
Antarkan aku agar mataku kembali terbiasa pada gelap
Ya...
kau pemegang lentera
Tuntun aku ke tempat itu
Biarkan aku kembali meraba-raba
Dan biarkan aku gunakan indra sentuhku
Dan kau pemegang lentera
Tuntunlah aku dulu kesana
jangan biarkan aku ditempat ini
ini bukan tempat yang kumaksud
Jangan beri aku lentera wahai pemegang lentera
Aku ingin damai tanpa cahaya
Biarkan aku buta walau sekejap
dan saat aku bosan dengan gelap
Jemputlah aku disini
Dan Aku Lelah
Ketika lelah merasuk ke dalam sumsum tulang
Serasa raga tanpa nyawa melanglang malam
Percikan kecil cahaya suram kilaukan mata
Mimpikan Tabir jingga dan lentera emas
Getir nafas dan keluh kesah ini
Membuat aku Rindu hangat dekap ibu
Tertatih mulut berkata-kata tiada makna
Dan selalu coba hadirkan riang dalam kata
Bagaikan atlas yang dihukum Zeus
Letih pundak ini menanggung bumi
Mati rasa mati raga mati indera
Hingga aku bertanya apa aku masih bernyawa
Beri aku nafas segar wahai peri mimpi...
Bawa aku ke alam bawah sadar yang indah
Bawa aku ke lembah-lembah berpelangi
Dan buat aku lupa lelahku
Beri aku segelas susu wahai sapi-sapi di vrindavan
Akan ku teguk dengan nikmat sampai isi gelasku habis
Dan beri aku waktu sedikit lagi malaikat maut
akan kucoba nikmati lelahku
Serasa raga tanpa nyawa melanglang malam
Percikan kecil cahaya suram kilaukan mata
Mimpikan Tabir jingga dan lentera emas
Getir nafas dan keluh kesah ini
Membuat aku Rindu hangat dekap ibu
Tertatih mulut berkata-kata tiada makna
Dan selalu coba hadirkan riang dalam kata
Bagaikan atlas yang dihukum Zeus
Letih pundak ini menanggung bumi
Mati rasa mati raga mati indera
Hingga aku bertanya apa aku masih bernyawa
Beri aku nafas segar wahai peri mimpi...
Bawa aku ke alam bawah sadar yang indah
Bawa aku ke lembah-lembah berpelangi
Dan buat aku lupa lelahku
Beri aku segelas susu wahai sapi-sapi di vrindavan
Akan ku teguk dengan nikmat sampai isi gelasku habis
Dan beri aku waktu sedikit lagi malaikat maut
akan kucoba nikmati lelahku
Langganan:
Postingan (Atom)