Minggu, 17 Januari 2010

Aku dan Sebuah Harmonika

Ketika hampir satu abad aku diam dalam sunyi
Pada hari minggu yang kuanggap kelam
Tiba-tiba ada sebuah cahaya yang menarik mataku untuk mencoba melihatnya
Bersinar binar bagai permata
Sebuah harmonika?!
Mana mungkin harmonika bercahaya bagai permata
Sepertinya rabun mataku semakin bertambah
Tapi aku percaya itu bukan karena rusaknya penglihatanku
ya....memang benar itu
Harmonika itu bercahaya
Takjub mataku dengan hal itu
Desir darah semakin memuncak
Tangan rentaku yang nadi-nadinya mulai mencuat mencoba mengambil harmonika itu
Wah...sungguh indah harmonika itu
Bagaikan alat musik dewa
Apa itu memang sebuah alat musik dewa yang jatuh atau sengaja dijatuhkan untukku?
Atau itu hanya harmonika biasa yang dengan kemajuan jaman bisa diberi cahaya?
Aku mencoba meniup harmonika itu...
Suara nada-nada mengalun
Pecah sudah kesendirian satu abad yang kujalani
aku coba memainkan nada-nada yang pernah kupelajari sebelum aku benar-benar menyepi
Tiba-tiba muncul kembali kenangan-kenangan ketika aku memutuskan diri untuk menyendiri
Keluargaku...teman-temanku dan seseorang yang pernah ada dan menyelimuti aku ketika aku terpuruk
Tidak usah dibahaslah mengapa aku mengambil jalan menyendiri selama satu abad ini
Tidak seorangpun yang tahu
Bahkan tuhanpun tak mengerti mengapa aku memilih jalan ini
Aku mainkan terus harmonika itu...
Indah dan senang bisa mendengar suara lagi
Terengah sudah napasku tak kuat meniup harmonika itu
Lalu kugenggam erat harmonika itu ketika ku tertidur
Dalam tidurku, sayup-sayup terdengar suara symphoni yang merdu
ketika ku buka mata...
Dimana ini?
Aku seperti berada dalam sebuah pesta para dewa
Harmonika itu tetap tergenggam ditanganku
Aku senang karena aku tidak sendiri disana
Harmonika ini menemaniku
Aku disuguhi nada-nada yang keluar dari beberapa pemain harmonika
Seperti choor di hari natal dan pukulan bedug di saat ramadhan
Indahnya dan sampai-sampai aku tidak ingin kembali lagi ke tempat menyepiku
Di sini indah...nyaman
Aku serasa muda kembali dan aku yakin bisa meniup harmonikaku tanpa takut napasku habis
Aku tidak akan kembali...aku tidak akah kembali
Aku akan tetap di sini
Aku sudah tidakpeduli dengan gubuk reot yang kudiami selama satu abad
Yang pada malam hari tak satu ekor binatangpun berani berbunyi
Seakan tempat itu mati
Tapi disini...aku bahagia
aku mengingkari janjiku untuk hidup menyepi selamanya
Dan pada saat aku meniup harmonikaku,seseorang berbaju putih dan terlihat agung menghampiriku
Dia bertanya "kau senang ada disini?"
tentu saja kujawab senang...
Dia pun berkata "baiklah, ragamu akan membusuk dan lenyap"
Aku menjawab "aku tak peduli"
"aku nyaman berada di sini dan aku bisa memainkan harmonikaku yang menemaniku sekarang"
Tiba-tiba saja orang itu lenyap dan aku tetap saja memainkan harmonikaku...


1 komentar:

  1. ...twinkle...

    kurasa kau telah berada dalam surga, kawan!
    atau masuk ke dalam mimpi panjang tiada akhir???
    aku tak temukan maksudmu
    namun...
    ku senang mengetahui kau tersenyum lagi
    karena itu pertanda hidup menggeliat kembali...
    alangkah baiknya jika bukan karena harmonika namun dari dirimu sendiri...

    BalasHapus