Kamis, 21 Oktober 2010

Di Dalam Bilik tak Bertuan

Gemericik tetesan hujan sore itu seperti mengantarkan sebuah pesan yang ragu
Sisa-sisa tanah kering yang mulai pudar mengantarkan aroma tanah yang haru
Rumput-rumput yang basah terlihat hijau dam diikuti buah pohon pala yang meranum
Kemanakah perginya awan putih itu?
Hilangkan dingin kelam dan undang datang sang bintang menari
Cahaya bulan jelas terlihat ragu bersinar dan seolah angin pun enggan bertiup
Tetap membawa suasana malam kelam yang dingin merobek kulit

Di balik gemericik dan dinginnya suasana, seorang bocah kecil berlari
Berpayung daun pisang yang mungkin tiada berguna
Berlari menerobos butiran-butiran air dari langit malam
Berteduh di dalam bilik tak bertuan yang kusam dan kotor
Kuyup badan dan sayu mata temaram memandang sekitar
Terbesit tanya dalam hati kecil yang mungkin tiada satu orang pun tahu
Apa rencana tuhan malam ini?

Beri waktu untuk istirahat dan tanpa sadar mata terlelap
Dibalik dinding beranyam bambu yang reot dimakan waktu
Hujan masih gerimis saja seolah enggan memberi ritme yang meninggi
Bagai komposer yang tetap memberi lantunan pelan yang nyaman
Terjaga sang bocah lama terdiam
Teringat tujuan yang masih panjang yang harus dilalui
Sebuah pesan penting yang harus disampaikan pada seorang disana

Kenapa dia?
Kenapa dia menjadi penyampai pesan?
Bukankah itu kejam di malam yang hujan gerimis dan kelam harus berlari?
Sebuah surat basah yang usang tergenggam di tangannya
Tinta pena seperti mulai memudar
Letih kaki masih ingin bersandar pada dinding usang ini
Tapi dia harus berlari lagi
Hingga waktunya pesan telah sampai,
Bilik tak bertuan akan merengkuhmu lagi

Rabu, 20 Oktober 2010

Ketika Sinar Senja...

Ketika sinar senja tiada bertegur sapa
Angin semilir sampaikan duka pilu
Lonceng-lonceng gereja berdentang tanpa irama
Daun-daun terbang berhambur sendu

Terduduk lesu dalam pelukan sayap malaikat pekat
Tanpa tahu dan peduli apa yang terlewati
Dalam kata dan senandung lidah serasa tercekat
Bait-bait dari pena pun mulai terasa bagai meniti temali

Dan ketika sinar senja tiada bertegur sapa
Laba-laba hitam berhenti menyulam sarang legam
Binatang malam pun mulai bersiap untuk berpesta
Dan bulan perlahan menyeruak di balik awan kelam

Gemercik air dari telaga waja yang surut
Menitip rindu dan kenangan di saat pasang
Tahukah kau ketika semua mulai pekat?
Tiada seorang pun yang akan datang menjelang

Metafora Jiwa Yang Pucat

Saat kata mulai tiada berguna & bermakna lagi
Akankah bibir masih bisa berucap kembali
Kelu lidah mati rasa hambar tak berguna
Terbata-bata ingin berbicara tentang kejujuran

Kosong melompong otak coba berpikir
Menerawang jauh tentang indah lalu dunia
Perlahan-lahan cerita kehidupan lalu berputar
Sebuah idealsme kaku dan tanpa ujung yang meraja

Sebuah sikap optimis menjadi sikap pesimis yang pasti
Jalan-jalan indah berubah terasa berlumpur & panas
Bagai tertusuk duri mawar dan terlilit benalu
Biar saja mati & tanpa kompromi

Sayup-sayup burung gagak dan nasar terdengar merdu
Lolongan serigala pun menjadi satu symphoni yang indah
Gesekan biola malam menyanyat hati yang perih
Seiring terbebas lepas nyawa dari raga

Senin, 18 Oktober 2010

Seorang yang telah mati

Aku seorang yang telah mati
Dengan jiwa yang kosong melompong
aku tetap berjalan menyusuri jalan yang kotor berlumpur
Sebuah dilema dan problema yang ada jauh sebelum aku lahir
Kini ada di seluruh gerak-gerikku

Aku menjadi sang pendosa yang hina
Tiada tau salah mengapa dan siapa
Aku hanya seperti menjadi seorang pemegang tongkat estafet
yang menjadi penyambung hingga semua berakhir'

Jemu sudah aku dengan semua
Aku bosan terus berlari
Aku ingin mendobrak sebuah realita
Sebuah dikte caci maki yang mungkin tiada berbudi

Manisnya madu kurasa racun yang sulit kuteguk
Pahitnya derita mungkin serasa sebuah bahagia
Hilang sudah semua indera
dan aku memang seorang yang telah mati

Minggu, 10 Oktober 2010

Sang Pemegang Lentera

Wahai kau pemegang lentera
Tunjukan aku tempat sunyi yang indah
biarkan gelap menyertaiku dan tinggalkan aku
Antarkan aku agar mataku kembali terbiasa pada gelap

Ya...
kau pemegang lentera
Tuntun aku ke tempat itu
Biarkan aku kembali meraba-raba
Dan biarkan aku gunakan indra sentuhku

Dan kau pemegang lentera
Tuntunlah aku dulu kesana
jangan biarkan aku ditempat ini
ini bukan tempat yang kumaksud

Jangan beri aku lentera wahai pemegang lentera
Aku ingin damai tanpa cahaya
Biarkan aku buta walau sekejap
dan saat aku bosan dengan gelap
Jemputlah aku disini

Dan Aku Lelah

Ketika lelah merasuk ke dalam sumsum tulang
Serasa raga tanpa nyawa melanglang malam
Percikan kecil cahaya suram kilaukan mata
Mimpikan Tabir jingga dan lentera emas

Getir nafas dan keluh kesah ini
Membuat aku Rindu hangat dekap ibu
Tertatih mulut berkata-kata tiada makna
Dan selalu coba hadirkan riang dalam kata

Bagaikan atlas yang dihukum Zeus
Letih pundak ini menanggung bumi
Mati rasa mati raga mati indera
Hingga aku bertanya apa aku masih bernyawa

Beri aku nafas segar wahai peri mimpi...
Bawa aku ke alam bawah sadar yang indah
Bawa aku ke lembah-lembah berpelangi
Dan buat aku lupa lelahku

Beri aku segelas susu wahai sapi-sapi di vrindavan
Akan ku teguk dengan nikmat sampai isi gelasku habis
Dan beri aku waktu sedikit lagi malaikat maut
akan kucoba nikmati lelahku

Sabtu, 09 Oktober 2010

Pagi Harus Begini

Geliat pagi aroma embun
Dan gerimis malam mulai terlupa
Symphoni hembusan angin pagi
Menyadarkan diri dari mimpi semu

Beranjak dari peraduan malam
Udara pagi kini terhirup
Pesta bintang dan bulan telah terhenti
Matahari mulai mengintip tebar cahaya

Kicau burung dan gemericik air
Penawar racun mimpi buruk malam
Fotosintesis pagi kembali terulang
Metamorfosis pun terus berlanjut

Enggan rasa menuju siang
Pagi sendu yang tak mau berlalu
Dan disaat pagi kembali pergi
Malam tetap seperti itu

Jumat, 08 Oktober 2010

-Ini Merah Jambu-

Merah jambu itu tetap merah jambu..
Merah jambu yang menjadi penenang amarah
walau bukan merah jambu yang terdahulu
tapi ini memang merah jambu
Lepaskan ikatan amarah
...dan terimalah ini merah jambu

Itu Tempat Kecilku

Lihat itu..
Itu tempat kecilku
Iya itu
Tempat yang ditutupi ilalang dan rerumputan yang mengering
Pengap dan panas serasa tiada beda dengan bis kota

Itu tempat kecilku
Disana aku berbagi tawa dengan beberapa orang lagi
Kita selalu tertawa walau lapar bagai mengoyak lambung nista
Air mata sudah bosan menetes dari sudut mata yang hitam

Itu tempat kecilku
Tempat kumpulan orang-orang aneh tapi lebih waras dari angota dewan
Di tempat itu aku mampu merenda alam khayal yang tipis
Benang-benang fantasi mulai susah untuk diatur lagi

Itu tempat kecilku
Istana yang tiada beda dengan fantasi
Malam selalu indah ditemani simphony jangkrik dan katak
Kadang-kadang hujan turun memeriahkan suasana

Itu tempat kecilku
Sudahkah kau lihat?!
Maukah kau singgah
dan aku akan menjamumu dengan tawa tanpa dusta

Kemana Indonesia?

"Indonesia Tanah Airku"
"Tanah Tumpah Darahku"
Terdengar sayup-sayup suara dari radio tua oleh telinga yang renta
Teringat kembali masa-masa dimana angin kebebasan yang berhembus hangat
Mata berkaca-kaca teringat pekikan suara "MERDEKA" yang lantang
Nasionalis mengalir deras bagai air bah yang menerobos bendungan
Tak percuma darah menetes di tiap jengkal tanah pertiwi
Habis sudah masa sembunyi dan rasa haru yang membiru

Tapi itu masa lalu
Ketika sebuah angin kebebasan baru pertama kali berhembus pelan dan menyejukan
Ketika kebebasan mulai berputar layaknya tornado
Tak ada batas yang mampu menghalangi
Berputar keras dan menarik semua

Berbicara layaknya tanpa etika dan bertindak layaknya raja
Nasionalis mulai memudar dan hawa egois mulai terpancar
Bingung dan tiada mengenal mana kawan dan mana lawan
Patriot jiwa telah dipelintir oleh jaman

Sebuah realita yang suram dan kelam
Tanpa tau bagaimana menghijaukannya
Sebuah petikan jaman edan
Dan kutipan nyata potret baru bangsa

Tapi aku tidak ingin mati seperti ini
Aku akan tenang di saat semua kembali membaik
Di saat semua kembali bernorma dan tiada tipu daya
Agar aku tenang dan bisa menyampaikan kabar indah ini pada gugur bunga disana

Kau Boleh Sebut Jalang

Berdandan menor menuai kontroversi
Berharap mendapat materi
Pakaian seksi penuh sensasi
Tanpa berharap banyak kritisi

Malam merambat merayap datang
Berharap gincu menarik uang
Kau boleh sebut ini jalang
Ini gaya lain cari uang

Kehidupan tak ada kompromi
Tapi bisa bernegosiasi
kehidupan itu keras
Tapi tidak ingin memelas

Persetan..

Memoar Ajal Malam Remang-remang

Di remang-remangnya cahaya lilin
Kuambil pena hitamku dan mencoba kurangkai kalimat
Gemetar tangan menahan lapar berharap terlupa oleh kalimat
Menulis bait-bait tiap sakit dan indah yang telah terjadi

Hanya untuk menjadikan sebuah memo untuk seseorang yang menemukanku nanti
Dan berharap ada seorang yang mampu menerjemahkan omong kosong yang kuceritakan
Dalam tiap goresan ini kutulis dengan air mata dan darah yang memuncar
Getir raga tanpa nyawa yang berkelebat dalam sunyi

Teringat di saat aku masih bisa membagi tawa
sebelum semua mulai merenta dan terhapus oleh jalannya detik jam
Semangat membara yang meredup dan mulai terkikis oleh hampa
Tautan indera serasa tiada berguna lagi

Habis sudah kata-kataku habis sudah air mata dan darahku
Aku bersiap menuju gerbang kelam dalam akhir sebuah parodi hidup
Mati dan kembali
Lepas

Kamis, 07 Oktober 2010

Metropolis Kelam


Belenggu sore mulai datang..Cahaya matahari mulai meredup
Pijakan kecil berjalan beriringan,Membawa lelah dalam langkah
Selalu menjadi tanya dalam otak,ada apa,mengapa dan kenapa
Ada apa dengan dunia,mengapa begitu keras dan kenapa harus hidup?

Mencoba bermimpi akan surga
Dan berlari dari realita yang kadang terasa lebih fana dari mimpi
Berbicara tentang kehidupan dalam dunia dongeng yang indah
Dan berbohong tentang dunia nyata yang penuh intrik

Malam menyengat dan dingin merambat
Bergulung cahaya bulan dan bintang menari
Satu persatu jangkrik berhenri memainkan iramanya
Seakan mengerti bahwa iramanya kini hanya musik percuma
Bukan lagi menjadi senandung indah
Yang mampu mengantar sunyi menjadi mimpi

Kadang-kadang kokokan ayam pagi sudah tak berguna
Tersadar dari mimpi dan kembali pada dunia
Dan seiring dengan kokokan ayam
Pijakan kaki beriringan yang masih lelah kembali berjalan

Be My Valentine

“I LOVE YOU”
That’s what i always want to say for you
But when I meet you,all word’s like gone
That’s make me never can say something
Im confused and I think im crazy
Crazy with you and your enchantment
Take me and hug my heart
Take me fly with you
Play with star and see the light from the moon
And I will take one of a thousand from that star
I will save in my heart and bring the light for you when you feel the dark
And when that day come,Im sure i will there
And I will say what I feel to you

“BE MY VALENTINE “

Ode Dalam Catatan Cinta

Kasih tidak selamanya menjadi cinta
Namun,cinta akan selalu mengasihi
Ia anugerah dalam hidup setiap makhluk
Berbahagialah orang yang mampu mencintai
Dan damailah bila dicintai
Sorga bila dua insane mencinta bertemu dalam satu ikatan
Semakin cinta menjadikan seorang cemas
Cemas bila cintanya dicuri
Cintanya pindah ke hati yang lain
Tidak selamanya cinta menuai senyuman
Siapkan diri menyambut bahwa cinta sejati
Pada dasarnya penuh tangis dan haru
Tuhan selalu memberi ujian bagi tiap pecinta
Bersyukurlah bila perahu cinta gagal dihempas ombak
Menangislah bila perahu itu hancur karena badai
Tapi,relakan bila perahu itu hancur hanya karena riak air
Sadari bahwa tuhan masih menyembunyikan kapal
Yang lebih pantas dan kuat untukmu
Karena segalanya disiapkan agar kau mendapat yang terbaik