Jumat, 08 Oktober 2010

Memoar Ajal Malam Remang-remang

Di remang-remangnya cahaya lilin
Kuambil pena hitamku dan mencoba kurangkai kalimat
Gemetar tangan menahan lapar berharap terlupa oleh kalimat
Menulis bait-bait tiap sakit dan indah yang telah terjadi

Hanya untuk menjadikan sebuah memo untuk seseorang yang menemukanku nanti
Dan berharap ada seorang yang mampu menerjemahkan omong kosong yang kuceritakan
Dalam tiap goresan ini kutulis dengan air mata dan darah yang memuncar
Getir raga tanpa nyawa yang berkelebat dalam sunyi

Teringat di saat aku masih bisa membagi tawa
sebelum semua mulai merenta dan terhapus oleh jalannya detik jam
Semangat membara yang meredup dan mulai terkikis oleh hampa
Tautan indera serasa tiada berguna lagi

Habis sudah kata-kataku habis sudah air mata dan darahku
Aku bersiap menuju gerbang kelam dalam akhir sebuah parodi hidup
Mati dan kembali
Lepas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar